Kesabaran Membuahkan Hasil

 

Kata Pengantar Penulis:

Melalui cerpen ini, saya ingin berbagi sebuah fragmen kehidupan yang mungkin banyak dialami namun jarang dibicarakan. Ini adalah kisah tentang beradaptasi di lingkungan baru, berhadapan dengan prasangka, dan bagaimana kebenaran terkadang harus diperjuangkan di tengah riuhnya suara sumbang. Semoga cerita ini dapat menjadi pengingat akan pentingnya kerukunan, kejujuran, dan kebijaksanaan dalam setiap interaksi sosial kita.


 

Dahulu, saya membayangkan sebuah kompleks perumahan adalah muara bagi ketenangan; tempat di mana pagar-pagar beton tak menghalangi senyum ramah, dan kerukunan tumbuh subur di antara deretan rumah yang rapi. Namun, harapan sederhana itu perlahan luruh saat saya mulai menetap sepenuhnya di sini.

Sebagai mantan pekerja yang terbiasa pulang saat senja, transisi menjadi ibu rumah tangga seolah memaksa saya masuk ke dalam sebuah panggung drama yang tak pernah saya inginkan. Di balik riuh dimalam hari masih terdengar suara anak-anak yang masih berlarian jauh setelah azan isha berkumandang mengisi berbagai kecerian anak-anak dimalam hari.

Saya menyadari bahwa di lingkungan ini, dinding-dinding rumah ternyata memiliki telinga, dan setiap gerak-gerik yang tak sejalan dengan kebiasaan kolektif akan segera menjadi bahan "sidang" di pojok gang. Padahal dulu, harapan saya sederhana saat pertama kali melangkah ke sini: hidup rukun, harmonis, dan baik-baik saja. Namun, kenyataan seringkali menertawakan harapan.

Lingkungan ini terasa asing bagi saya yang terbiasa hidup di perkampungan yang tenang bersama keluarga besar. Di sini, aturan tidak tertulis seolah menguap; suara teriakan anak-anak yang bermain hingga larut malam menembus jendela, memaksa saya untuk memaklumi perbedaan latar belakang tiap penghuni.

"Menanggalkan seragam pendidik untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata sebuah perjalanan yang terjal. Saya memilih berdiam diri di dalam rumah, mencoba berdamai dengan ritme hidup yang baru. Di saat anak-anak sekolah, saya lebih suka bergelut dengan tumpukan cucian dan urusan domestik daripada harus melebur dalam riuh obrolan di depan pagar. Namun, di mata mereka, kesunyian yang saya pilih adalah sebuah keasingan."

“Bun, kenapa di dalam terus? Ibarat ayam, kalau di dalam terus sudah bertelur itu!” ujar teh Ina

Kalimat itu meluncur tajam dari mulut seorang tetangga saat saya tak sengaja berpapasan. Mereka tertawa, menganggap sindiran itu sebagai bumbu keakraban, sementara saya hanya bisa tersenyum kecil, anggap saja becanda atau memang bahasa disini seperti itu.

Bagi mereka, pagi hari dan siang hari adalah waktu untuk berbagi kabar dan canda gurau, sementara bagi saya, itu adalah waktu berharga yang tak boleh terbuang percuma. Rasanya tidak tenang jika harus duduk mengobrol hingga siang hari sementara pekerjaan rumah masih menanti untuk diselesaikan.

“Pekerjaan rumah belum selesai, Teh Ina. Jadi saya manfaatkan waktu selagi anak-anak sekolah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah jadi anak pulang sekolah pekrjaan rumah selesai,” balas saya seperlunya saat diajak bergabung.

Pernah suatu kali saya mencoba membaur dalam kegiatan masak-masak. Namun, niat baik saya justru berbuah cibiran.

“Lihat ini, masa buat lontong kaya gini dan isinya sedikit sekali,” sindir mama lili sambil mengangkat sebuah lontong di depan orang yang berada diruang itu.

Saya mengamati bungkusan itu. Jelas sekali itu bukan buatan saya! Saya tahu persis bagaimana bentuk lipatan tangan saya sendiri, dan yang dia pegang itu bukan milik saya. Namun, dia seolah menutup telinga dan tak mau tahu. Ya sudahlah, terserah. Mau percaya atau tidak, saya tidak peduli lagi. yang penting sudah bilang jujur dan apaadanya.


Lidah yang Mendahului Bukti


Berusaha mengabaikan sindiran-sindiran kecil yang pernah terlontar dari tetangga ini,  ya saya tau mana sindiran dan becanda yang tidak serius. saya mencoba mencari kegiatan positif dengan mengikuti pengajian rutin di RT kami. Saat Ibu RT mengajak, saya menerimanya dengan senang hati. Konsepnya sama seperti di kampung dulu; bergilir dari rumah ke rumah agar setiap hunian mendapat keberkahan.

Hingga suatu hari, tibalah giliran rumah saya menjadi tuan rumah. Semua peralatan inventaris RT sudah saya siapkan dengan rapi. Namun, tak saya sangka, berakhirnya acara itu justru menjadi awal dari sebuah badai. padahal dulu dari awal saya ikut pengajian baru kali ini terlibat masalah. 

Padahal Selesai acara, saya dan suami segera mengembalikan semua peralatan ke gudang Balai RT. Beberapa minggu berlalu dengan tenang, sampai sebuah kabar burung hinggap di telinga saya: ada alat inventaris yang hilang. Mama Ida datang menanyakannya kepada saya dengan nada yang sejak awal sudah tidak mengenakkan.

“Barang-barang itu sudah kami kembalikan semua ke gudang Balai, Mama Ida,” ucap saya setenang mungkin.

Namun, dia bersikukuh. “Tolong cari dulu di dalam rumah ya bun. Coba cari di lemari  pasti ada di situ!”

saya bingung kenapa mama ida bilang begitu kepada saya, seolah-olah jawaban saya hanyalah alasan untuk menutupi kehilangan barang itu dan menyakini bahwa barang itu memang hilangnya karena saya. Meski saya sudah menjelaskan bahwa suami saya sendiri yang mengantar barang-barang itu kembali ke gudang, Mama Ida tetap mendesak saya untuk bertanya pada suami, bahkan meminta kami mencari ulang di rumah.

Saya berdiri mematung, kehilangan kata-kata. Mama Ida terus mendesak agar saya mencari kembali di dalam rumah, bahkan ia menyebut secara spesifik agar saya memeriksa di dalam lemari. Ia begitu yakin, seolah-olah ia baru saja melihat saya menyimpan barang itu di sana.

Tuduhan itu terasa sangat konyol sekaligus menyakitkan. Bagaimana mungkin saya menyimpan inventaris RT di dalam lemari? Jangankan untuk menyimpan barang orang lain, untuk barang sendiri pun saya tidak punya banyak tempat. Rumah kami berada di area lingkungan tempat tinggal yang sering terjadi banjir, sehingga kami harus berpikir seribu kali sebelum membeli furnitur kayu.

Satu-satunya lemari yang kami miliki hanyalah sebuah lemari pakaian plastik yang sudah sesak dengan baju-baju kami berempat. Mama Ida sendiri pernah masuk ke rumah saya saat pengajian; ia seharusnya tahu betapa sederhananya isi rumah kami. Namun, kenyataan itu seolah sengaja ia lupakan demi ada seseorang yang bisa dijadikan kambing hitam atas kehilangan barang inventaris itu.

 

Interogasi di Teras Rumah


Di hadapan mereka, saya dan suami seperti sedang diinterogasi. Jantung saya berdegup kencang, dan setiap tarikan napas terasa sesak karena dihimpit oleh dakwaan mereka yang tak berdasar. Ada tiga orang di sana yang terus menyerang, menutup mata terhadap kejujuran yang kami tawarkan. Kami tidak lagi merasa seperti warga yang sedang berdiskusi maupun itu bukan lagi bertanya kepada kamui, tapi disini kami sebagai terdakwa yang dipaksa mengakui dosa yang tidak pernah kami lakukan.

Suami saya, yang mencoba tetap tenang, akhirnya mengusulkan untuk mengganti barang tersebut demi menyudahi kegaduhan ini. Namun, anehnya, usul itu tidak menghentikan desakan mereka. Mereka tetap bersikeras agar kami mencari lagi di rumah yang kecil itu. Seolah-olah, tujuan mereka bukan lagi menemukan barang yang hilang, melainkan ingin melihat saya menyerah dan mengaku kalah di bawah telunjuk mereka.

“Memangnya peralatan itu tidak ada yang pinjam Mama?” tanya saya, ya saya bersikap tenang dan berpikir panjang, barang yang sudah disimpan di gudang balai mendadak hilang? ini sesuatu yg mustahil kalau tidak ada yang meminjamnya.

Salah satu ibu bernama Mama Ida menjawab dengan ketus, “Selain Mama, tidak ada lagi yang pinjam! Tuh tanyakan saja Teh Ina, bisa sebagai saksinya!” Di sini Mama Ida sangat yakin dengan ucapannya itu.

Teh Ina pun menjawab hal yang sama, “Memang tidak ada lagi yang pinjam selain Mama.”

Hati saya hancur mendengar keyakinan mereka. Saya heran, kenapa mereka berani langsung bersaksi dan begitu yakin, padahal belum tentu ucapan mereka benar. Suami saya akhirnya berkata, “Ya sudah, nanti kami cari lagi. Kalau memang tidak ada, nanti saya ganti saja.”

Suami sempat bilang ke Mama Ida untuk menggantinya, tapi Mama Ida menolak. niat baik kami di tolak,walaupun semua itu bukan kesalahan saya,  terus apa yang mereka inginkan?

“Tidak usah Pak, kita pakai uang ibu-ibu pengajian saja untuk membeli barang yang hilang itu.”

Diganti tidak mau, tapi saat pengajian lagi, saya merasa disindir.

“Oh ya, barang kemarin yang hilang sudah ketemu belum? Kok suara speakernya beda ya?” ucap Mama Lili, salah satu dari tiga orang yang dulu menyalahkan kami.

“Belum, saya beli lagi yang baru yang bukan colokan speaker yang hilang itu,” jawab yang lain. Mereka seakan sengaja berujar begitu di depan saya. Terserahlah mereka mau bilang apa saja, yang terpenting kami sudah jujur, 

Minggu berikutnya, setelah pengajian, masalah baru muncul lagi terkait charger baterai yang hilang. Mama Ida kembali datang dengan nada ketus dan emosi, menyudutkan saya lagi. didalam ruangan di rumah mama ina lagi-lagi ada masalah baru, ada barang yang hilang lagi dan kami pula yang di tanyakan lagi, yah membuat saya bingung jadinya.

"Bun chargeran batre simpan dimana, di kantong apa, warna apa,  di mana alat itu disimpan coba tanyakan lagi kesuami nya? !" ya tanya mama ida dengan nada tinggi dan kesal kepada saya.

tapi saya tetap dengan penjelasan pertama tidak berubah bahwa barang inventaris semuanya sudah saya dan suami balikan ke balai RT, dan saya bilang chargeran sudah saya simpan dalam satu kantong mama ida, ya kita tau lah kantong yang di maksud itu kantong berisi batre karena memang disitulah tempatnya dan tidak mungkin saya simpan disembarangan tempat apalgi suami saya yang apik banget jika menyimpan barang mustahil berceceran dan tidak mungkin disimpan sembarangan.sama suami saya.

Mama Lili pun ikut memojokkan. "Ya tidak muatlah, mana cukup charger itu masuk ke kantong kecil begitu?"  ujar mama lili dengan nada tinggi dan kesal.

Di dalam hati, saya meradang. Memangnya dia lihat saat kami menyimpannya? Kenapa dia bicara seolah-olah dia saksi matanya?

Kala itu, saya hanya bisa menarik napas panjang, menahan gejolak emosi yang ingin meledak. Kenapa saya terus yang disalahkan? Karena sudah sangat kesal, saya tanya lagi ke suami yang kebetulan sedang WFH dan sedang sangat sibuk. Suami saya pun bergegas mendatangi Mama Ida.

"Mama, saya sudah bilang, kalau ada apa-apa hubungi saya. Jangan istri saya!" tegas suami saya di depan mereka. "Saya yang menyimpan semuanya. Sekarang ada masalah lagi soal charger  batre hilang, kami lagi yang ditanya-tanya. Padahal dari pengajian dikami saja itu sudahwaktunya sudah hampir sebulan yang lalu, tapi lagi-lagi ditanyakan kepada kami, kekeh barang itu hilang setelah digunakan di acara pengejian dirumah kami!"

Saya menghela napas, menahan sesak. "Kalau begini, Mama bukan hanya bertanya, tapi sudah menuduh," ujar saya lirih namun tajam.

"Saya bukan menuduh ya, Pak, seperti ucapan istri Bapak ini!" Mama Ida menyambar dengan nada tinggi. "Saya cuma tanya, di mana alat itu disimpan? Plastik apa? Warna apa?!"

tapi sebelumnya pas didalam rumah sebelum suami saya ikut campur lagi dan menjelaskan semuanya, saya sudah menjelaskan semuanya tapi perkataan saya di bantah mentah-mentah sama mama lili. jaawaban kami tetap sama semua peralatan inventaris yang kami pakai sudah semuanya disimpan di balai dan tidak mungkin kami simpan terpisah apalagi kami menyimpan barang inventaris itu didalam rumah yang jelas barang itu bukan milik kita,  

ya tidak muat lah bun, mana cukup chageran itu masuk kedalam kantong itu. ujar mama lili dengan nada kesal

Mendengar ucapan mama lili, hati saya tambah kesal, kenapa lagi-lagi mereka berbicara tanpa bukti, lagi-lagi meraka hanya memojokan saya dan ingin menyalahkan kehilangan barang itu semua nya ke saya, dalam hati saya mendengar ucapan mama lili berpikir memangnya dia lihat barang itu ketika kami menyimpannya ke balai? kenapa dia bilang tidak muat seolah-olah dia lihat dan berargumen seperti itu. kita tau cageran itu disimpan dengan batre mic masa tempatnya tidak muat jelas-jelas saat saya bawa muat ko.

makaya disini saya dan suami emosi mendengarkan celotehan mereka yang tidak masuk diakal, dan apa yang mereka tanyakan bukan lagi sebuah pertanyaan melainkan tuduhan. karena disini mereka menyakini sesuatu barang inventaris itu hilang dari setelah pengajian di rumah kami, itu pun dengan jarak satu bulan dan mereka mendatangkan saksi sendiri. 

Saya tidak tinggal diam dari hilangnya barang inventaris yang pertama. Sebelumnya saya sudah menanyakan ke Pak RT, apakah ada pihak bapak-bapak yang memakai inventaris ibu-ibu. Pak RT menjelaskan bahwa kunci gudang ada dua: satu di Mama Ida, satu lagi di Pak Andi. “Coba tanyakan, Bun,” ujar Pak RT.

Saya yakin barang itu ada yang meminjam. ya pikiran logis lah, mana ada barang yang sudah disimpan di dalam balai hilang apalagi barang pertama itu colokan kabel speaker yang ada didalam cover mic, masa bisa buka sendiri,  Saya berdoa dan memohon pertolongan Allah. ya bersikap sabar dan tenang menghadpai tetangga seperti ini, mungkin ini watak mereka seperti itu. jika ada maslah tidak berpikir logis dan panjang.

Atas izin Allah, doa saya terkabul, lewat bayangan saya setelah solat, saya merasa barang itu dipinjam seseorang. dan semua alat inventaris itu ada di bapak-bapak dengan rambut gondrong, dan disimpan di tempat box tertutup. itu yang saya lihat atas izin allah dan meminta kesuami dengan cepat mencari dan mendatangi bapak-bapak itu. 

Saya meminta Pak RT menemani suami mencari barang tersebut ke Pak Andi. Dan benar saja! Ternyata barang inventaris itu memang dipinjam oleh pengajian bapak-bapak.

Pak Andi pun bertanya, “Lho, memangnya Mama Ida tidak kasih tahu? Padahal Mama Ida sudah mengambil barang itu di saya minggu kemarin,” ucap Pak Andi heran.

Ternyata, kunci gudang itu ada dua. Mama Ida yang memegang satu kunci, seolah tidak terpikir atau tidak mau tahu bahwa ada orang lain yang bisa membuka gudang itu.

Setelah Pak RT memberikan klarifikasi di grup WhatsApp ibu-ibu kalau selama ini barang itu tidak hilang tapi dipinjam oleh pengajian bapak-bapak, setelah kejadian itu pun mereka tidak meminta maaf. Malah Mama Ida justru berbohong dengan mengatakan dia menemukan barang itu di gudang setelah "ubreg-ubreg gudang".

Mendengar semua itu, dada saya terasa sesak namun sekaligus lega. Hati saya menjerit: pembohong besar! Bagi saya, yang terpenting adalah kebenaran telah terungkap. Bukan saya yang menghilangkannya apalagi menaruh di tempat yang berbeda. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa hidup bertetangga seharusnya bisa hidup rukun, tanpa harus menghakimi orang lain tanpa bukti.

 


Pesan Penulis: Hidup bertetangga adalah cerminan kedewasaan kita dalam bersosialisasi. Janganlah prasangka membutakan mata hati, dan jangan pula lisan mendahului bukti. Karena fitnah yang telanjur terucap akan meninggalkan bekas, meski kebenaran akhirnya terungkap. Mari saling menjaga lisan dan hati, agar kerukunan bukan sekadar angan, melainkan kenyataan yang menenangkan.

 

 

keterangan : 

Cerita ini hanya fiktif saja, jika ada kesamaan mohon maaf, 

Sampul di buat pakai AI ya