Hanya Aku yang Melihat

 

Hari itu hari Rabu. Aku menjalani rutinitas seperti biasa, sebuah siklus hidup yang sederhana di sebuah perkampungan padat. Rumah kami dikelilingi oleh hunian saudara-saudara dari pihak Ibu, menciptakan labirin gang sempit yang akrab. Tepat di depan rumah, berdiri sebuah mushola tua dan deretan makam warga. Bagi kami, nisan-nisan itu adalah tetangga pendiam yang tak pernah mengganggu. Kami terbiasa hidup berdampingan dengan kematian, sampai akhirnya kematian itu sendiri masuk ke dalam rumah kami tanpa mengetuk pintu.

Beberapa hari terakhir, Ibu tampak berbeda. Wajahnya pucat, seputih kapas, dan sorot matanya kosong. Namun, ia tetap ada di sana. Saat aku pulang sekolah, aku masih mendapati Ibu duduk di ruang tengah. Kami masih bercanda, meski tawa Ibu kini terdengar lebih lirih, nyaris seperti embusan angin.

"Ibu lelah, ya?" tanyaku suatu sore. Ibu hanya diam, menatapku dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata.

Keanehan mulai merayap saat aku keluar rumah. Saudara-saudaraku menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasihan dan ngeri. Mereka sering berbisik ketika melihatku duduk di teras, berceloteh sendirian sambil memegang segelas teh yang mereka pikir tak ada pemiliknya. Padahal, di depanku, Ibu sedang mendengarkan ceritaku.

"Kenapa Ibu tidak pernah keluar rumah lagi, Nak?" tanya bibiku suatu pagi dengan suara gemetar. "Ibu sedang capek, Bibi. Paling di kamar atau di dapur," jawabku santai.

Sore itu, Bapak pulang. Sebagai supir logistik, ia memang jarang berada di rumah. Hal pertama yang ia cari adalah Ibu. Namun, Bapak tidak bisa menemukannya. Ia menggeledah kamar, memeriksa kamar mandi, hingga memanggil nama Ibu berkali-kali ke arah langit-langit rumah.

"Ibu di dapur, Pak! Sedang siapkan makan," seruku sambil menunjuk ke arah meja makan yang menurutku penuh dengan masakan Ibu.

Bapak tertegun. Ia menatap meja makan yang kosong melompong dan berdebu. Wajah Bapak seketika berubah pasi. Ia tidak membantahku, ia justru mendekat dan memelukku erat sekali. Tubuh Bapak bergetar, dan aku bisa merasakan tetesan air mata jatuh ke bahuku.

"Ibu tidak ada di sana, Nak..." bisik Bapak parau. "Ada, Pak! Itu Ibu sedang tersenyum!" aku mulai marah. Mengapa semua orang berpura-pura buta?

Kegaduhan itu memancing warga dan saudara berkumpul. Mereka mulai menyisir kampung, mencari keberadaan Ibu yang ternyata sudah menghilang sejak beberapa hari lalu menurut catatan orang lain. Aku hanya mengikuti mereka dengan perasaan dongkol. Bagiku, ini semua sia-sia karena Ibu sedang menungguku di rumah.

Langkah kaki warga berhenti di sebuah area pembangunan dekat sungai. Di sana ada lubang besar untuk pipa PDAM. Bau tanah basah dan karat tercium menyengat. Tiba-tiba, teriakan seorang warga memecah suasana.

"Ada sesuatu di dalam gorong-gorong!"

Aku menerobos kerumunan. Jantungku seakan berhenti saat melihat ke bawah. Di sela-sela pipa besi yang dingin, terhimpit sesosok tubuh. Baju kuning motif bunga favorit Ibu terlihat kusam oleh lumpur. Tapi di saat yang bersamaan, aku melihat sosok Ibu sedang berdiri di tepi jalan, menatap kerumunan itu sambil tersenyum ke arahku.

"Lihat, itu Ibu berdiri di sana!" tunjukku. Tapi tidak ada yang menoleh. Hanya aku yang melihatnya.

Tim evakuasi bekerja keras mengeluarkan jasad yang terjepit itu. Ketika jasad itu berhasil diangkat, tangisku pecah. Wajah itu... meskipun sudah kaku, itu benar-benar jasad Ibu. Aku histeris, mencoba membangunkan tubuh yang sudah tak bernapas itu. "Ibu bangun! Jangan tidur di sini!"

Saat jasad Ibu diletakkan di rumah duka, aku duduk di sampingnya. Aku berbisik, "Ibu, ayo bangun. Jangan tidur di sini."

Tiba-tiba, di mataku, jasad itu membuka mata. Ibu bangun, duduk, dan tertawa ke arahku. "Lihat! Ibu sudah bangun! Ibu tidak meninggal!" teriakku kegirangan. Seketika, orang-orang yang ada di ruangan itu lari terbirit-birit karena ketakutan. Mereka melihat sesuatu yang tidak aku lihat. Aku tertawa bersama Ibu di tengah ruangan yang mendadak sepi.

Namun, tawa itu tak bertahan lama. Perlahan, sosok Ibu yang duduk di depanku memudar, menyisakan jasad kaku yang kembali membisu. Aku tersadar, senyum dan lambaian tangan itu adalah salam perpisahan. Ibu benar-benar telah pergi, meninggalkan aku dan ilusi yang hanya aku sendiri yang bisa melihatnya.

 

Keterangan:

Cerita ini hanya Fiktif karangan saya saja.

sampul cerita pakai AI