Jurang yang Tak Kupilih

Jurang yang Tak Kupilih
Apakah kalian tahu
rasanya berdiri
di tengah keramaian
namun tak sungguh-sungguh dilihat?
Aku dipandangi
seperti kisah yang beredar,
sementara tuduhan
meluncur tanpa wajah,
menyeret namaku
ke jurang
yang tak kupilih.
Mereka memilih diam,
menjaga jarak,
seolah luka
cukup ditonton
tanpa perlu disapa.
Aku belajar menjauh
dari kata-kata
yang ringan dilemparkan,
namun berat
dipertanggungjawabkan.
Dalam sunyi aku percaya,
Tuhan tidak pernah diam.
Kebenaran akan menemukan jalannya,
tanpa perlu pembelaan,
sebab telinga yang tertutup
hanya mendengar
apa yang ingin dibenarkan.
Kelak,
setiap perkataan
akan diminta pertanggungjawaban
di hadapan Tuhan—
hakim yang adil,
yang tak pernah keliru
menimbang kebenaran.
Bionarasi:
Jurang yang Tak Kupilih adalah puisi reflektif tentang pengalaman berdiri sendiri di tengah keramaian, ketika prasangka dan tuduhan hadir tanpa wajah. Puisi ini merekam jarak, diam, dan luka yang ditonton, sekaligus keyakinan bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari pembelaan, melainkan dari waktu dan keadilan Tuhan sebagai hakim yang adil.