Elegi Hati yang Membatu: Rahasia di Balik Absen Malam


Bagian III: Rahasia di Balik Absen Malam

Dunia Sovia adalah dunia yang berputar di bawah lampu kota saat matahari sudah terbenam. Di kampus ini, ia membuktikan bahwa usia bukan batasan, meski ia merupakan yang termuda di angkatannya. Sebenarnya, Sovia memiliki mimpi untuk kuliah di universitas ternama dengan nilai akademis SMA-nya yang gemilang. Namun, karena orang tua tidak mengizinkannya merantau jauh, ia akhirnya memilih kuliah di tempat terdekat yang bisa ditempuh pulang-pergi. Demi menyeimbangkan waktu antara mengajar dan belajar, ia pun memberanikan diri meminta izin kos agar lebih dekat dengan tempat kerjanya.

Namun, sikap Sovia yang pendiam justru memicu prasangka. Malam itu, langkah Sovia terhenti di tangga kampus setelah menunaikan salat. Ia mendengar suara Fahmi sedang asyik berseloroh di samping kelas.

"Kalian merasa heran tidak? Sovia itu sepertinya belum bekerja, tapi pilihannya kuliah malam terus. Jadi seperti wanita kelelawar ya, hanya terlihat saat hari sudah gelap," ujar Fahmi sambil terkekeh.

Tanpa disangka, Pak Andrian, dosen mereka, juga mendengar ucapan itu. Beliau menghampiri Sovia dengan tatapan iba.

"Sovia, kamu belum bekerja ya? Jangan hiraukan ucapan mereka. Nanti Bapak bantu carikan pekerjaan buat kamu," ujar beliau tulus.

Sovia hanya tersenyum sopan dan berterima kasih singkat, merasa tidak enak untuk banyak bicara karena telah membuat dosennya salah paham.

Minggu berikutnya, Pak Andrian mencegat Sovia di depan pintu kelas dengan wajah penuh penyesalan. "Sovia, maaf ya, Bapak belum berhasil mendapatkan lowongan pekerjaan untukmu. Bapak sempat bertanya ke kampus lain, namun syaratnya minimal harus lulusan D3. Maafkan Bapak."

Melihat ketulusan beliau yang bersusah payah, Sovia merasa tidak bisa lagi berdiam diri. "Mohon maaf sekali, Pak. Saya yang seharusnya minta maaf karena sudah merepotkan Bapak. Sebenarnya saya sudah bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta. Jadi Bapak tidak perlu repot lagi. Maaf saya tidak jujur dari awal."

Mata Pak Andrian berbinar lega. Kejutan sesungguhnya terjadi saat sesi absensi dimulai. Pak Andrian sengaja menaikkan nadanya sambil tersenyum ke arah kursi Sovia.


"Hadir, Bu Guru Sovia?" panggil Pak Andrian.

Seketika, suasana kelas menjadi sunyi. Semua mahasiswa menoleh tak percaya, termasuk Yogi yang tersentak kaget. Kok saya sendiri tidak tahu jika Sovia sudah bekerja? Rasanya banyak rahasia dalam dirinya yang tidak saya ketahui, gumam Yogi dalam hati sembari menatap Sovia dengan pandangan baru.

Sovi hanya tertunduk kecil, merasakan beban rahasianya luruh. Setelah kelas berakhir, saat berjalan menuju tempat biasa angkutan umum berhenti, Yogi akhirnya membuka suara.

"Kenapa tidak pernah cerita kalau kamu sudah bekerja, Sov?" tanya Yogi memecah keheningan.

Sovia menoleh singkat. "Rasanya tidak perlu diceritakan, Gi. Aku hanya takut orang-orang menganggapku aneh karena sifatku yang pendiam ini. Aku khawatir profesi itu terasa tidak pas dengan karakterku di mata teman-teman."

Yogi terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Di dalam angkutan umum yang melaju menembus malam, Yogi kembali duduk di sebelahnya. Sebelum Yogi bersiap turun di persimpangan dunianya, ia menatap Sovia dengan sungguh-sungguh.

"Sov, jika nanti kamu dioper oleh sopirnya, segera hubungi saya ya. Nanti saya temui kamu, saya antar pulang sampai rumah," pesan Yogi.

Sovia tertegun, wajahnya memanas. "Oh, tidak usah Yogi. Bagaimana caranya kamu menjemput saya?"

"Gampang. Nanti saya pinjam motor teman kosan dulu untuk menyusul kamu," jawab Yogi.

Sovia tersimpul malu, ada rasa haru yang menyelinap di hatinya. "Tidak usah, Gi. Saya benar-benar tidak mau merepotkanmu. Yang ada, saya malah nanti yang jadi khawatir kalau kamu harus pulang sendirian setelah mengantarku malam-malam begini."

Yogi hanya tersenyum tipis tanpa membantah lagi. Sebelum melangkah keluar dari kendaraan tersebut, ia menatap Sovia dengan hangat.

"Hati-hati, Sovia... Dadah!" ucap Yogi sambil melambaikan tangan.

Angkutan kembali melaju menembus malam. Sovia menatap jalanan dari balik jendela dengan senyum yang sulit disembunyikan. Ia menyadari bahwa di tengah riuhnya Jakarta, perhatian kecil dari Yogi adalah rumah paling nyaman yang pernah ia miliki.

sebenarnya Sovi tidak ingin ambil pusing dengan perkataan temannya. Ia memilih untuk tetap menjalani hidupnya dengan damai. Baginya, bekerja keras dalam diam tanpa merendahkan orang lain adalah cara terbaik untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

 

© 2025 oleh HH. All Rights Reserved.