Elegi Hati yang Membatu: Rahasia di Balik Kursi Angkutan

Bagian II: Rahasia di Balik Kursi Angkutan
Kebersamaan yang sudah terpola selama bertahun-tahun itu tiba-tiba hal itu akan sirna oleh sebuah rencana. Suatu hari, Yogi mengajak Sovia menemaninya mencari kosan baru di dekat kampus. Permintaan sederhana itu sanggup membuat hati Sovia mencelos. Jika Yogi pindah ke dekat kampus, itu artinya kebersamaan mereka untuk pulang kuliah bersama di angkutan umum akan berakhir.
Hari yang ditakutkan tiba. Dari dalam angkutan umum yang melaju pelan, Sovia menatap jendela dengan gelisah. Begitu kendaraan sampai di depan gang, ia segera memberi isyarat pada sopir. Ternyata, Yogi sudah berdiri di sana di bawah terik matahari, menyambutnya dengan senyum riang.
"Jadi, kita mau mulai cari dari sebelah mana dulu, Gi? Apa kamu sudah sempat tanya-tanya kosan mana yang masih kosong?" tanya Sovia pelan.
"Belum ada, Sov. Kita cari-cari saja dulu sekitar kampus, barangkali ada yang cocok," jawab Yogi santai.

Mereka berjalan cukup jauh, menyusuri gang-gang sempit dan bertanya dari satu kosan ke kosan lain. Di tengah perjalanan, Yogi menyadari langkah Sovia yang mulai melambat.
"Capek tidak, Sov? Maaf ya, dari tadi sudah jalan jauh menemaniku," tanya Yogi.
"Em, tidak Yogi, biasa saja," jawab Sovia pelan, menyembunyikan rasa pegal di kakinya demi bisa memperlama momen itu.
Keesokan harinya di kampus, Sovia hanya bisa terdiam saat teman-teman ramai menanyakan rencana pindah Yogi. Namun, sebuah kejutan terjadi: Yogi tiba-tiba membatalkan niatnya untuk pindah. Ada rasa lega yang luar biasa di hati Sovia, meski ia tetap bertanya-tanya; mengapa setelah semua usaha kemarin, Yogi memilih untuk tidak jadi pindah?
© 2025 oleh HH. All Rights Reserved.