Elegi Hati yang Membatu: Seribu Cinta untuk Sovia


Sepatah Kata dari Penulis

Selamat datang di sudut kecil blog saya. Seringkali, Jakarta bukan hanya tentang gedung tinggi dan kemacetan yang melelahkan. Di baliknya, ada jutaan cerita yang tersimpan rapat dalam deru mesin angkutan umum dan cahaya lampu jalan yang temaram. Salah satunya adalah kisah tentang Sovia dan Yogi.

Sovia adalah potret nyata dari seorang pejuang mimpi yang tidak mengenal kata lelah. Namun di kampus ini, Sovia tidak sendirian. Ia dikelilingi oleh jiwa-jiwa hebat—para mahasiswa yang mungkin tidak langsung mencicipi bangku kuliah selepas SMA, namun memilih kembali mengejar mimpi setelah bertahun-tahun bergelut dengan kerasnya dunia kerja.

Di mata Sovia, mereka adalah pahlawan bagi hidup mereka sendiri. Dari mereka, Sovia belajar bahwa tak ada garis waktu yang terlambat untuk menjemput ilmu, sebagaimana tak ada beban yang terasa terlalu berat saat hati telah menetapkan tujuannya. Jika siang hari ia habiskan untuk mengabdi sebagai guru yang tulus, maka di malam hari, ia membasuh seluruh letihnya dengan semangat yang ia serap dari kawan-kawan seperjuangan yang tak pernah menyerah pada keadaan.

Bagian I: Elegi Hati yang Membatu

Senja di Jakarta selalu punya cara sendiri untuk meredam hiruk-pikuk. Langit oranye keemasan memayungi kota yang tak pernah lelah bersolek ini. Namun bagi Sovia, lembayung sore itu hanyalah tirai tebal yang menyembunyikan kekosongan di dadanya. Aroma sate ayam yang menggoda di pinggir jalan seolah tak mampu menembus tembok tinggi yang ia bangun di sekeliling hatinya.

Hanya ada satu nama yang berhasil menyelinap di balik tembok itu: Yogi. Pria dengan senyum tipis yang mampu memporak-porandakan seluruh akal sehat Sovia, namun tak pernah sedikit pun menganggapnya lebih dari seorang sahabat.

Sudah lima tahun Yogi menjadi poros semesta bagi Sovia. Semuanya bermula saat mereka masih menjadi mahasiswa di sebuah kampus khusus karyawan. Sebagai sesama pejuang karier yang kuliah di malam hari, mereka kerap pulang bersama. Di dalam angkutan umum yang sesak, di bawah lampu jalan yang temaram, Yogi selalu punya cerita untuk memecah keheningan.

"Kamu tidak perlu takut pulang malam, Sov. Ada aku dan teman-teman," ujar Yogi suatu kali.

Sovia sangat sadar akan bahaya kota besar bagi seorang wanita pendatang. Namun, kehadiran Yogi mengubah segalanya. Yogi bukan sekadar teman jalan; ia adalah pelindung yang tak terlihat. Ia sering berbagi tips tentang cara menjaga diri di angkutan umum, seolah ia tahu persis kecemasan yang disembunyikan Sovia di balik wajah diamnya.

Uniknya, kedekatan itu seolah luntur saat mereka berada di dalam kelas. Mereka duduk berjauhan dan hanya sesekali beradu pandang. Namun, begitu kelas usai, suara Yogi akan selalu memecah lamunan Sovia.

"Ayo pulang, Sovia..." ajaknya hangat.

Pernah suatu malam, mereka harus duduk berjauhan di dalam angkutan karena kondisi yang penuh. Sovia hanya bisa menatap jalanan dari balik jendela, sementara hatinya berbisik lirih, Pindah ke sebelahku, Yogi. Seolah memiliki ikatan batin, ketika penumpang di sebelah Sovia turun, Yogi segera bergeser duduk di sampingnya sambil melempar senyum manis yang membuat jantung Sovia berdebar kian liar.

Puncaknya adalah ketika Yogi harus turun lebih dulu karena rute mereka berbeda. Sebelum melangkah keluar, Yogi selalu menoleh pada sopir dan berpesan dengan nada tegas.

"Bang, tolong antar teman saya sampai tujuannya, ya. Jangan dioper-oper," pesan Yogi.

Kalimat itu sederhana, namun sanggup menggetarkan palung hati Sovia. Bahkan sang sopir sering berkomentar, "Pacarnya perhatian banget, Dek. Beruntung ya punya pacar seperti itu." Sovia hanya bisa tersenyum kecut, menyadari perhatian itu mungkin hanyalah bentuk kebaikan seorang sahabat. Sebuah elegi yang terus berulang; tentang hati yang mencinta dalam diam.

 

© 2025 oleh HH. All Rights Reserved.